Tuesday, 3 April 2012

Republik (Buku 1)


Oleh Plato



Aku pergi kemarin ke Piraeus bersama Glaucon anak Ariston, untuk melakukan penyembahan kepada sang dewi; dan juga karena aku hendak menyaksikan dengan cara bagaimana mereka melakukan perayaan itu, yang adalah sebuah hal baru. Menurutku sangat baik upacara yang dilakukan oleh para penduduk tersebut, tetapi tidak lebih baik daripada upacara orang-orang Thracia.


Ketika kami telah menyelesaikan pemujaan kami dan menikmati pemandangan tersebut, kami merubah arah kami menuju kota. Di saat itu, Polemarchus anak Chepalus melihat kami dari jauh, ketika kami telah memulai perjalanan pulang kami, ia memerintahkan pelayannya untuk meminta kami berhenti. Sang pelayan menepuk punggungku, dan mengatakan: “Polemarchus menginginkan kamu menunggu.”

Aku berbalik, dan menanyainya di mana tuannya berada.

“Itu ia,” kata anak muda itu, “menuju kalian, jika kalian berkenan menunggu.”

“Tentu saja kami akan menunggu,” kata Glaucon. Dan beberapa saat kemudian tampaklah polemarchus, dan bersamanya Adeimantus saudara Glaucon, Niceratus anak Nicias, dan beberapa orang lain yang datang dari upacara.

Polemarchus berkata kepadaku: “Aku lihat, Socrates, rombonganmu telah di dalam perjalanan ke kota.”

“Kamu tidak salah,” kataku.

“Tetapi apakah kalian melihat,” katanya, “berapa jumlah kami?”

“Tentu saja.”

“Dan apakah kalian lebih kuat daripada kami? Karena jika tidak, kalian harus tetap di tempat kalian.”

“Mungkinkah ada pilihan,” aku berkata, “supaya kami bisa membuatmu percaya untuk membiarkan kami pergi?”

“Tetapi bisakah kamu membuat kami percaya, jika kami menolak mendengarkanmu?” Katanya.

“Tentu saja tidak,” Glaucon menjawab.

“Kemudian kami tidak akan mendengarkan. Kalian bisa meyakini itu.”

“Maksud kalian,” Adeimantus menyela,kalian belum mendengar bahwa ada balapan obor dengan menunggang kuda untuk menghormati sang dewi, yang akan dilaksanakan malam ini?”

“Dengan kuda?” Aku menjawab: “Itu adalah sebuah pertunjukan yang terhormat. Apakah para penunggang kuda akan membawa obor-obor dan melewatkannya satu sama lain di sepanjang balapan itu?”

“Ya,” kata Polemarchus, “dan bukan hanya itu, tetapi sebuah upacara akan diselenggarakan di saat malam, yang tentu saja kalian harus saksikan. Biarkan kita bangun segera setelah perjamuan dan melihat perayaan ini. Akan ada orang-orang muda yang berkumpul, dan kita akan melakukan pembicaraan yang baik. Tinggallah, dan lakukan sebagaimana kami meminta.”

Glaucon berkata: “Aku merasa, karena kamu memaksa, maka kami harus demikian.”

“Bagus sekali,” aku menjawab.

Kemudian kami pergi bersama Polemarchus ke rumahnya, di sana kami mendapati saudara-saudaranya Lysias dan Euthydemus, dan bersama mereka Thrasymachus orang Chalcedonia, Charmantides orang Paeania, dan Cleitophon anak Aristonymus. Cephalus ayah Polemarchus, juga ada di rumah, dan menurutku ia adalah orang yang sangat tua, telah lama sejak aku dahulu melihatnya. Ia duduk di sebuah kursi yang berlapis bantal, dan sebuah garland di kepalanya, karena ia telah melakukan pengorbanan di altar. Ada beberapa kursi lain di ruangan itu diatur hampir melingkar, yang kami duduki di samping Cephalus. Ia mengucapkan salam kepadaku dengan bersemangat, dan kemudian ia berkata: “Kamu tidak datang untuk melihatku, Socrates, sesering yang seharusnya kamu lakukan. Jika aku masih mampu untuk pergi ke kota secara mudah, aku tidak akan memintamu datang, tetapi kami akan pergi mengunjungimu. Tetapi di usiaku ini, aku sulit bisa pergi mencapai kota, dan karena itu kamu harus lebih sering ke Piraeus. Karena biarkan aku katakan kepadamu, bahwa semakin kenikmatan badan sirna, semakin besar aku rasakan kenikmatan dan pesona percakapan. Karena itu janganlah menolak permintaanku, tetapi jadikanlah rumah kami sebagai kediamanmu dan bertemanlah dengan anak-anak muda ini. Kita adalah teman lama, dan kamu akan cukup merasa berada di rumah bersama kami.”

“Ya, Cephalus,” kataku, “dan aku suka berbincang-bincang dengan orang-orang yang telah berumur. Aku menghargai mereka sebagai para pengelana yang telah melakukan perjalanan yang mungkin harus aku lalui juga, dan yang harus aku terima, jika ia adalah jalan yang halus dan mudah, ataupun kasar dan sukar. Ada sebuah pertanyaan yang aku ingin ajukan kepadamu yang telah sampai kepada masa yang disebut oleh para penyair sebagai ‘ambang masa tua’. Apakah kehidupan menjadi lebih keras di ujungnya, atau apakah yang kamu mungkin katakan tentangnya?”

“Aku akan katakan kepadamu, Socrates,” ia berkata, “perasaan diriku. Para laki-laki seumurku sering berkumpul bersama-sama; seperti kata pepatah lama, yang menyerupai menyukai yang menyerupai; dan di pertemuan kami kisah diri umumnya adalah, aku tidak mampu makan, aku tidak mampu minum.Kenikmatan masa muda dan cinta telah pergi, pernah ada suatu kali masa baik, dan sekarang setelah ia pergi, hidup bukan lagi hidup. Beberapa dari mereka mengeluhkan ketidakhormatan yang diletakkan di atas mereka oleh penuturan kisah-kisah, dan mereka akan dengan sedih mengatakan kepadamu seberapa banyak keburukan yang disebabkan oleh masa tua mereka. Tetapi untukku, Socrates, para penggerutu ini tampak menyalahkan hal yang tidak bersalah. Karena jika usia tua adalah penyebabnya, aku juga tua, dan semua orang tua lain tentulah akan merasakan hal yang sama. Tetapi aku tidak mengalami ini, juga tidak dialami oleh orang lain yang aku kenal. Sangat baik aku mengingat penyair tua Sophocles, di dalam menjawab pertanyaan ini, Bagaimana pelayananmu kepada Aphrodite, Sophocles, apakah kamu masih laki-laki yang sama seperti dahulu? Kedamaian, ia menjawab; aku merasa sangat berbahagia karena telah bebas dari hal yang kamu bicarakan, aku merasa seperti terlepas dari tuan pemarah yang gila. Perkataannya seringkali muncul di ingatanku, dan masih terdengar sebaik ketika ia mengucapkannya dahulu. Karena usia tua terasa sangat tenang dan bebas. Saat gairah telah merenggangkan pelukannya, kemudian, sebagaimana kata Sophocles, kita terbebas bukan hanya dari satu tuan gila, tetapi banyak. Sebenarnya, Socrates, penyesalan-penyesalan ini, dan juga keluhan-keluhan yang diceritakan itu, untuk diutarakan kepada penyebab yang sama, bukan usia tua, tetapi sifat dan perasaan masing-masing orang. Karena, yang bersifat tenang dan bahagia akan sulit merasakan tekanan usia, tetapi mereka yang memiliki sifat yang berlawanan dengan ini akan sangat terbebani.”

Aku mendengarkan di dalam kekaguman dan ingin untuk menariknya keluar, agar ia meneruskan, dan aku berkata, “Menurutku, Cephalus, orang-orang secara umum akan tidak yakin kepadamu saat kamu berkata demikian. Mereka akan merasa bahwa usia tua lebih mudah kepadamu, bukan karena kamu bersifat bahagia, tetapi karena kamu kaya, dan harta terkenal sebagai penghibur yang besar.”

“Kamu benar,” ia menjawab, “mereka tidak yakin, dan ada sesuatu di dalam perkataan mereka, bagaimanapun, tidak sebanyak yang mereka bayangkan. Aku mungkin menjawab mereka sebagaimana Thmistocles menjawab orang Seriphia yang mengasarinya dengan mengatakan bahwa ia terkenal, bukan karena kehormatannya, tetapi karena ia adalah orang Athena: ‘Jika kamu adalah orang negeriku dan aku dari negerimu, maka tidak akan ada di antara kita yang terkenal.’ Dan kepada mereka yang tidak kaya dan tidak sabar terhadap usia tua, jawaban yang sama mungkin diberikan. Karena kepada orang tua miskin yang baik, usia tua tidak akan menjadi ringan, sedangkan orang tua jahat yang kaya akan tidak pernah merasakan damai di dalam dirinya sendiri.”

“Bisakah aku menanyakan, Cephalus, hartamu yang mana yang paling besar, apakah yang kamu terima ataukah yang kamu raih?”

“Raih? ha,” ia berkata.Di dalam seni menghasilkan uang, aku berada di antara ayah dan kakekku. Kakekku, yang namanya aku sandang, melipat-duakan dan melipat-tigakan nilai hartanya, sehingga ia mewariskan melebihi yang aku punyai saat ini. Tetapi ayahku, Lysanias, menurunkan harta tersebut menjadi lebih rendah dari yang ada saat ini: dan aku akan puas jika aku meninggalkan kepada anak-anakku bukan kurang tetapi sedikit lebih banyak daripada yang dahulu aku terima.”

“Ituah mengapa aku mengajukan pertanyaan tersebut kepadamu,” aku menjawab, “karena aku melihatmu meremehkan uang, yang juga adalah ciri mereka yang menerima keberuntungan daripada mereka yang meraihnya. Para pencari uang memiliki cinta ke dua kepada uang sebagai ciptaan mereka sendiri, seperti cinta para penyair kepada puisi-puisi gubahan mereka sendiri, atau orang-tua kepada anak-anak mereka, di samping cinta mereka demi pemakaian dan keuntungan yang umum kepada mereka dan semua orang. Mereka menjadi teman yang buruk, karena tidak berkata-kata selain puji-pujian kepada harta.”

“Benar,” katanya.

“Ya, ia memang benar, tetapi mungkinkah aku mengajukan pertanyaan lain? Apa berkah terbesar yang kamu dapatkan dari harta milikmu?”

“Satu,” katanya, “yang tidak bisa aku harapkan akan membuat orang lain yakin. Karena biarkan aku katakan kepadamu, Socrates, bahwa ketika seseorang merasa dirinya dekat dengan kematian, rasa takut dan peduli memasuki pikirannya yang tidak sebagaimana sebelum itu. Kisah-kisah tentang dunia bawah dan hukuman-hukuman di sana dahulu adalah dongeng yang mereka tertawakan, tetapi kini mereka tersiksa oleh pemikiran bahwa hal-hal tersebut mungkin benar. Karena usia tua atau karena ia ditarik mendekat kepada tempat lain itu, sehingga ia melihat hal-hal ini dengan lebih jelas, kecurigaan-kecurigaan dan pertanda-pertanda sangat mengerumuninya, dan ia mulai membayangkan dan memikirkan kesalahan-kesalahannya kepada orang-orang lain. Ketika ia mendapati jumlah kesalahannya adalah besar, ia akan seringkali seperti anak kecil yang hendak tidur saat takut, dan ia dipenuhi oleh firasat-firasat gelap. Tetapi untuk mereka yang bersih dari dosa, harapan manis, seperti Pindar ucapkan dengan memukau, adalah pengasuh yang baik untuk umurnya: ‘Harapan,’ katanya, ‘membuat riang jiwa ia yang hidup di dalam keadilan dan kesucian, pengasuh umurnya dan teman di dalam perjalanannya. Harapan adalah yang paling kuat membuai jiwa manusia yang tidak pernah beristirahat.’ Sangat mengagumkan kata-katanya! Dan suatu karunia yang besar dari kekayaan, aku tidak berkata untuk semua orang, tetapi untuk orang-orang yang baik, adalah, bahwa ia tidak perlu menipu uang atau berbohong kepada orang-orang lain, sengaja ataupun tidak sengaja; dan ketika ia berangkat ke dunia bawah ia tidak memunyai kekhawatiran tentang pelaksanaan kewajiban-kewajiban kepada para dewa atau hutang-hutang kepada manusia. Sekarang untuk kedamaian pikiran pemilikan harta menjadi berpengaruh besar, dan karena itu aku katakan, bahwa, memasangkan satu hal melawan hal lain, dari banyak keberuntungan yang diberikan oleh harta, kepada seseorang yang sadar ini menurut pendapatku adalah yang paling besar.”

“Baik, Cephalus,” kataku; “tetapi tentang keadilan ini, apakah ia? untuk mengatakan hal yang benar dan untuk membayar hutang-hutang, tidak lebih dari ini? dan bahkan untuk ini, apakah tidak ada pengecualian? Anggaplah seorang teman ketika sadar telah menitipkan persenjataannya kepadaku dan ia memintanya ketika ia tidak sadar, haruskah aku mengembalikannya? Tidak akan ada yang membenarkan aku jika berbuat demikian, lebih daripada mereka akan berkata bahwa aku harus selalu mengatakan hal yang benar kepada seseorang yang di dalam keadaannya itu.”

“Kamu cukup benar,” ia menjawab.

“Tetapi kemudian,” aku berkata, “membicarakan kebenaran dan membayar hutang-hutang bukanlah pengertian yang tepat untuk keadilan.”

“Cukup benar,” Socrates, “jika Simonides bisa dipercaya,” kata Polemarchus menyela.

“Aku khawatir,” kata Cephalus, “bahwa aku harus pergi sekarang, karena aku harus melihat pengorbanan-pengorbanan, dan aku menyerahkan argumen ini kepada Polemarchus dan teman-teman.”

“Bukankah Polemarchus adalah puteramu?” Kataku.

“Benar,” ia menjawab, dan tertawa menuju korban-korban.

“Katakan kepadaku, kamu pewaris argumen, apa yang diucapkan oleh Simonides, yang menurutmu berkata benar tentang keadilan?”

“Katanya, pembayaran hutang adalah adil, dan perkataan itu tampak benar menurutku.”

“Aku harus menyesal karena ragu kepada perkataan seorang yang bijaksana dan terilhami demikian, tetapi apa yang ia maksudkan, walaupun mungkin jelas untukmu, adalah kurang jernih untukku. Karena ia tentu tidak bermaksud, sebagaimana yang saat ini kita katakan, bahwa aku harus mengembalikan titipan persenjataan atau apapun kepada seseorang yang memintanya saat di dalam keadaan tidak sadar, padahal simpanan tersebut tidak bisa disangkal sebagai hutang kepadanya?”

“Benar.”

“Jika demikian, ketika seseorang meminta kepadaku sementara ia tidak di dalam keadaan sadar maka aku tidak perlu mengembalikan?”

“Tentu saja tidak perlu.”

“Ketika Simonides mengatakan bahwa pembayaran hutang adalah keadilan, ia tidak bermaksud memasukkan hal ini?”

“Tentu saja tidak, karena ia menganggap seorang teman harus selalu melakukan kebaikan kepada temannya dan tidak pernah melakukan kejahatan kepadanya.”

“Maksudmu ia tidak membicarakan pengembalian sebuah simpanan emas yang akan melukai sang penerima, jika kedua pihak adalah teman? itukah yang menurutmu ia ucapkan?”

“Ya.”

“Dan apakah para musuh juga harus menerima apa yang kita berhutang kepada mereka?”

“Aku yakin,” kata ia, “mereka harus menerima apa yang kita berhutang kepada mereka, dan seorang musuh, sebagaimana yang aku pahami, berhutang kepada musuhnya hal yang pantas atau layak untuk ia, yaitu keburukan.”

“Kemudian Simonides di dalam cara para penyair, berbicara secara gelap tentang sifat keadilan. Ia tampak bermaksud mengatakan bahwa keadilan adalah memberikan setiap orang hal yang pantas untuknya, dan ia menganggap ini sebagai sebuah hutang.”

“Ia pasti bermaksud demikian,” ia berkata.

“Demi langit!” Aku menjawab, “dan jika kita menanyakan kepadanya apa yang layak dan pantas diberikan oleh perobatan, dan kepada siapa, jawaban apa menurutmu yang ia akan katakan?”

“Ia tentu akan menjawab bahwa perobatan memberikan obat-obat dan daging dan minuman kepada tubuh manusia.”

“Dan hal layak dan pantas apa yang diberikan oleh seni memasak, dan kepada apa?”

“Bumbu kepada makanan.”

“Dan apa yang keadilan berikan, dan kepada siapa?”

“Jika, Socrates, kita dituntun oleh perbandingan yang sedang berlangsung ini, maka keadilan adalah seni memberikan kebaikan kepada teman-teman dan keburukan kepada para musuh.”

“Itu maksudnya?”

“Aku pikir demikian.”

“Dan siapa yang paling mampu memberikan kebaikan kepada teman-temannya dan keburukan kepada musuh-musuhnya di masa sakit?”

“Dokter.”

“Dan saat di dalam pelayaran, di tengah-tengah samudera yang ganas?”

“Nahkoda.”

“Dan di dalam tindakan bagaimana atau memandang hasil apa, seorang yang adil mampu melukai musuh dan berbuat baik kepada temannya?”

“Di dalam perang untuk yang satu, dan di dalam persekutuan untuk yang lainnya.”

“Tetapi ketika seseorang sedang sehat, Polemarchus, ia tidak memerlukan seorang dokter?”

“Tidak.”

“Dan ia yang tidak di dalam pelayaran tidak membutuhkan seorang nahkoda?”

“Tidak.”

“Maka di saat damai, keadilan tidak berguna?”

“Aku sangat jauh dari berpikir demikian.”

“Menurutmu keadilan diperlukan di saat damai sebagaimana di saat perang?”

“Ya.”

“Seperti pertanian untuk penambahan jagung?”

“Ya.”

“Atau seperti pembuatan sepatu untuk penambahan sepatu. Itukah maksudmu?”

“Ya.”

“Dan penggunaan yang sama bagaimana, atau kekuatan penambahan apa, yang dimiliki oleh keadilan di saat damai?”

“Di dalam perjanjian-perjanjian, Socrates, keadilan digunakan.”

“Perjanjian-perjanjian, maksudmu kerja-sama?”

“Tepat.”

“Tetapi apakah seorang yang adil ataukah pemain yang handal yang lebih berguna dan pasangan yang lebih baik di dalam permainan draughts?”

“Pemain yang handal.”

“Dan di dalam meletakkan batu-bata dan batuan apakah seorang yang adil lebih berguna atau pasangan yang lebih baik ataukah tukang-batu?”

“Jawaban yang sama.”

“Kemudian di dalam kerja-sama apa seorang yang adil menjadi pasangan yang lebih baik daripada seorang pemain harpa di dalam permainan harpa, karena pemain harpa tentu adalah pasangan yang lebih baik dari seorang yang adil?”

“Di dalam kerja sama uang.”

“Ya, Polemarchus, tetapi tentu saja bukan di dalam penggunaan uang. Karena kamu tidak ingin seorang yang adil menjadi penasihatmu ketika membeli atau menjual seekor kuda, seorang yang mengerti tentang kuda tentu saja akan lebih baik, bukankah demikian?”

“Tentu saja.”

“Dan ketika kamu hendak membeli sebuah kapal, pembuat-kapal atau nahkoda bukankah akan lebih baik?”

“Benar.”

“Kemudian di dalam keperluan mengenai perak dan emas, kapankah seorang yang adil diutamakan?”

“Ketika kamu ingin sebuah simpanan terjaga dengan aman.”

“Maksudmu ketika uang tidak diperlukan, tetapi akan dibiarkan?”

“Tepat.”

“Jika demikian, keadilan diperlukan ketika uang tidak diperlukan?”

“Itulah kesimpulannya.”

“Dan ketika kamu ingin menyimpan sebuah perisai atau sebuah lyre, dan tidak akan menggunakannya, kamu akan mengatakan bahwa keadilan menjadi berguna, tetapi ketika kamu ingin menggunakannya, maka seni seorang tentara atau pemain musik?”

“Tentu saja.”

“Dan demikian juga di dalam segala hal? keadilan berguna ketika mereka tidak berguna, dan tidak berguna ketika mereka berguna?”

“Itulah kesimpulannya.”

“Maka keadilan tidak baik untuk banyak-hal, tetapi mari kita pertimbangkan hal ini lebih lanjut. Bukankah ia yang mampu memukul paling keras di dalam pertandingan tinju atau di dalam perkelahian, menjadi yang terbaik di dalam menghindari pukulan?”

“Tentu saja.”

“Dan ia yang paling mahir mencegah atau meloloskan diri dari penyakit adalah yang paling mampu menciptakan penyakit?”

“Benar.”

“Tetapi lagi, seorang penjaga perkemahan yang terbaik adalah juga yang paling mampu menyelinap di perkemahan musuh?”

“Tepat.”

“Maka seorang penjaga yang baik adalah juga seorang pencuri yang baik?”

“Itu, aku kira, adalah kesimpulannya.”

“Kemudian jika seorang yang adil adalah penjaga uang yang baik, ia juga baik untuk mencurinya.”

“Itu akibatnya di dalam argumen.”

“Maka semua orang yang adil haruslah menjadi pencuri. Inilah menurutku yang kamu harus pelajari dari Homer; karena ia membicarakan tentang Autolycus, kakek Odysseus dari garis ibu, yang ia paling sukai, mengatakan bahwa ‘Ia melebihi semua laki-laki di dalam mencuri dan sumpah palsu.’ Dan dengan demikian, kamu dan Homer dan Simonides setuju bahwa keadilan adalah seni para pencuri, yang dilakukan ‘demi kebaikan teman-teman dan melukai para musuh.’ Itukah yang telah kamu katakan?”

“Tidak, tentu saja tidak begitu, walaupun aku tidak tahu sekarang apa yang telah aku katakan; tetap aku percaya bahwa keadilan menguntungkan teman-teman dan melukai para musuh.”

“Baiklah, ada sebuah pertanyaan lain. Kepada teman-teman dan musuh-musuh-kah yang kita maksudkan sebagai yang nyata, atau yang hanya terlihat nyata?”

“Tentu saja,” ia berkata, “seseorang diharapkan untuk mencintai mereka yang ia pikir baik, dan untuk membenci mereka yang ia anggap buruk.”

“Ya, tetapi bukankah orang seringkali salah tentang kebaikan dan keburukan. Banyak yang tidak baik tampak baik, dan sebaliknya?”

“Memang benar.”

“Maka untuk mereka, yang baik adalah musuh dan yang buruk adalah teman?”

“Benar.”

“Dan jika demikian, mereka akan benar di dalam melakukan kebaikan kepada orang buruk dan keburukan kepada yang baik?”

“Akan tampak demikian.”

“Tetapi orang baik adalah orang adil dan tidak akan melakukan ketidakadilan?”

“Benar.”

“Kemudian menurut perkataanmu, adil untuk melukai mereka yang tidak melakukan kesalahan apapun?”

“Tidak, Socrates, ajaran itu tidak berbudi.”

“Kemudian aku merasa kita harus melakukan kebaikan kepada orang adil dan melukai orang yang tidak adil?”

“Aku lebih menyukai itu.”

“Tetapi lihat akibatnya. Banyak orang yang salah menilai sifat orang-orang sehingga adil untuk mereka melukai teman-teman yang berlaku buruk sebagai teman, dan ia memiliki musuh-musuh yang baik. Jika demikian, kita harus mengatakan hal yang berlawanan dengan apa yang kita anggap sebagai maksud Simonides.”

“Sangat benar,” ia berkata, “dan menurutku kita lebih baik memperbaiki kesalahan yang tampak kepada kita di dalam penggunaan kata ‘teman’ dan ‘musuh.’”

“Apa kesalahan tersebut, Polemarchus?” Aku bertanya.

“Kita menganggap bahwa ia adalah teman yang tampak atau yang kita pikir baik.”

“Dan bagaimana kesalahan itu diperbaiki?”

“Kita harus mengatakan bahwa teman adalah yang, sebaik yang tampak, baik. Ia yang hanya tampak, tetapi tidak baik, hanya kelihatannya saja bukanlah teman, dan kita mungkin mengatakan demikian juga dengan musuh.”

“Kamu akan menganggap bahwa yang baik adalah teman dan yang buruk adalah musuh kita?”

“Ya.”

“Dan selain berkata sederhana sebagaimana kita lakukan saat pertama, adil untuk melakukan kebaikan kepada teman-teman dan melukai para musuh, kita harus mengatakan lebih lanjut, adil untuk melakukan kebaikan kepada teman-teman jika mereka baik dan melukai musuh-musuh jika mereka buruk?”

“Ya, itu terdengar sebagai kebenaran.”

“Tetapi apakah adil jika melukai semuanya?”

“Ia tentu saja harus melukai yang buruk dan juga musuh.”

“Ketika kuda-kuda terlukai, apakah mereka membaik ataukah memburuk?”

“Yang terakhir.”

“Memburuk, demikian, di dalam mutu yang baik untuk kuda-kuda dan bukan untuk anjing-anjing?”

“Ya, untuk kuda.”

“Dan anjing-anjing memburuk di dalam mutu yang baik untuk anjing-anjing, dan bukan untuk kuda-kuda?”

“Tentu saja.”

“Dan apakah orang-orang yang terlukai memburuk untuk orang-orang yang baik?”

“Tepat.”

“Dan bukankah keadilan adalah kebaikan manusia?”

“Bisa diyakini.”

“Kemudian orang-orang yang terlukai, karena memerlukan, menjadi tidak adil?”

“Sepertinya begitu.”

“Tetapi bisakah para pemain musik menjadikan orang tidak-mengenal-musik?”

“Tentu saja tidak.”

“Atau penunggang kuda menjadikan orang buruk di dalam menunggang kuda?”

“Mustahil.”

“Dan apakah orang yang adil menggunakan keadilan menjadikan orang tidak adil, atau berbicara umum, apakah perbuatan menurut kebaikan akan memburukkan mereka?”

“Bisa diyakini tidak.”

“Lebih lanjut. Apakah panas mungkin menghasilkan dingin?”

“Ia tidak mungkin.”

“Atau musim-kering kelembaban?”

“Tidak mungkin.”

“Mungkinkah kebaikan melukai siapapun?”

“Tidak mungkin.”

“Dan adil adalah baik?”

“Tentu saja.”

“Kemudian untuk melukai siapapun bukanlah sikap seorang yang adil, tetapi sebaliknya, orang yang tidak adil?”

“Menurutku, yang kamu katakan itu cukup benar, Socrates.”

“Kemudian jika seseorang mengatakan bahwa keadilan terdiri dari pembayaran hutang, dan bahwa kebaikan adalah hutang seseorang kepada teman-teman, dan keburukan adalah hutang terhadap para musuh, kita mengatakan bahwa ini tidak bijaksana, karena tidak benar, sebagaimana jelas tertampakkan, melukai seseorang tidak akan menjadi perbuatan adil.”

“Aku setuju denganmu,” kata Polemarchus.

“Kemudian kamu dan aku bersiap mengangkat senjata melawan siapapun yang dirinya terdapat di dalam perkataan Simonides atau Bias atau Pittacus, atau siapapun orang bijak dan nabi lainnya?”

“Aku cukup siap untuk berperang di sisimu, ia berkata.”

“Haruskah aku memberitahukan kepadamu siapa yang aku percaya dikatakan demikian?”

“Siapa?”

“Aku percaya bahwa Periander atau Perdiccas atau Xerxes atau Ismenias orang Thebes, atau beberapa orang kaya dan berkuasa yang lain, yang dianggap memiliki kekuatan yang besar, adalah yang pertama-tama mengatakan bahwa keadilan adalah ‘melakukan kebaikan kepada teman-teman dan melukai para musuhmu.’”

“Benar, ia berkata.”

“Ya,” aku berkata; “tetapi jika pengertian keadilan ini juga terjatuh, apa yang lain yang bisa ditawarkan?”

Beberapa kali di dalam percakapan Thrasymachus membuat usaha untuk membawa perbincangan menurut dirinya, dan ia dihalangi oleh seluruh teman, yang ingin mendengar akhir argumen. Tetapi ketika Polemarchus dan aku telah selesai berbicara dan terdapat jeda, ia tidak mampu menahan diamnya lebih lama lagi; dan, berusaha berdiri, ia mendatangi kami sebagai seekor binatang buas, hendak menerkam kami. Kami cukup khawatir melihatnya.

Ia berteriak kepada seluruh yang hadir: “Tipuan apa sehingga Socrates, menguasai kalian? Dan mengapa, orang-orang dungu, kalian berusaha saling menjatuhkan? Aku katakan bahwa jika kamu benar-benar ingin mengetahui apakah keadilan, Socrates, jangan hanya bertanya, dan mencari penghormatan untuk dirimu dari penyangkalan lawan bicara, karena banyak yang mampu bertanya tetapi tidak mampu menjawab; kamu jawablah sendiri dan beritahukan apa keadilan menurutmu. Jangan katakan kepadaku bahwa keadilan adalah kepentingan atau keuntungan atau penghargaan atau penerimaan, karena omong-kosong seperti ini mustahil aku terima, aku membutuhkan kejelasan dan ketepatan.”

Aku terkejut mendengar kata-katanya, dan tidak mampu memandangnya tanpa gemetar. Tetapi aku percaya bahwa jika aku tidak menatap matanya sebelum ia melakukannya kepadaku, aku akan kehilangan suaraku. Saat aku melihat marahnya bertambah, aku memandangnya terlebih dulu, dan kemudian aku mampu menjawabnya dengan rasa khawatir yang ringan.

“Thrasymachus,” aku berkata, dengan tersenyum, “janganlah keras terhadap kami. Polemarchus dan aku mungkin melakukan kesalahan kecil di dalam argumen, tetapi aku mungkin menjamin bahwa kesalahan itu bukanlah tujuan kami. Jika kami sedang mencari sekeping emas, kamu tentu tidak akan membayangkan bahwa kami ‘berusaha saling menjatuhkan,’ dan kehilangan kesempatan untuk menemukannya. Dan mengapa, ketika kami berusaha mencari arti keadilan, sebuah hal yang lebih berharga daripada sekeping emas, kamu mengatakan kami saling memojokkan tanpa berusaha mencapai kebenaran? Tidak, temanku, kami sangat menginginkan dan sangat bersemangat, tetapi ternyata kami tidak mendapatkannya. Dan jika demikian, lebih secara beralasan bahwa kami seharusnya menerima dari orang-orang cerdas sepertimu.”

Mendengar ini, ia tertawa terbahak-bahak secara sinis, dan berkata, “Wahai para dewa! Inilah yang terkenal ironi Socrates! Bukankah telah aku katakan, bahwa apapun yang ditanyakan kepadanya ia akan menolak menjawab, dan mencoba ironi atau pengacakan lain, supaya ia mungkin menghindar dari menjawab?”

“Kamu adalah seorang filsuf, Thrasymachus,” aku menjawab, “dan mengetahui dengan baik bahwa jika kamu menanyai seseorang angka-angka apa yang membentuk dua belas, kemudian melarangnya menjawab dua kali enam, atau tiga kali empat, atau enam kali dua, atau empat kali tiga, ‘karena omong-kosong seperti ini tidak bisa aku terima,’ jelas, jika kamu menanyai seseorang dengan cara demikian, akan tidak ada yang mampu menjawabmu. Jika saja seseorang kembali bertanya kepadamu, ‘Thrasymachus, jika satu dari angka-angka ini adalah jawaban yang benar menurutmu, apakah aku salah jika mengatakan beberapa angka lain? atau apakah maksudmu?’ Bagaimana kamu akan menjawabnya?”

“Dua hal yang sangat sama serupa!” Ia berkata.

“Mengapa mereka tidak demikian?” Aku menjawab; “dan bahkan jika mereka tidak, tetapi hanya tampak demikian kepada orang yang ditanya, tidakkah ia akan mengatakan apa yang ia pikirkan, terserah kamu dan aku melarangnya ataupun tidak?”

“Aku menyangka kemudian kamu hendak membuat salah satu dari jawaban-jawaban yang saling bertentangan?”

“Aku berani berkata bahwa aku akan melakukannya, walaupun berbahaya, jika kepada jawaban aku menerima walaupun satu.”

“Apa,” ia berkata, “jika aku memberikan jawaban lain dan lebih baik tentang keadilan kepadamu, selain dari semua ini? Apa yang pantas dilakukan kepadamu?”

“Lakukan kepadaku! Sebagai seorang yang tidak mengetahui, aku harus belajar dari orang yang bijaksana. Itulah yang pantas dilakukan kepadaku.”

“Apa, dan tidak ada pembayaran! Pemberitahuan yang menyenangkan!”

 “Aku akan membayar ketika aku memiliki uang,” aku menjawabnya.

“Tetapi kamu memiliki uang, Socrates,” Glaucon berkata, “dan kamu, Thrasymachus, jangan khawatir tentang uang, karena kami semua akan menyumbang untuk Socrates.”

“Ya, tentu saja,” ia menjawab, “kemudian Socrates akan melakukan hal yang ia selalu lakukan, menolak menjawab sendiri, tetapi mengambil dan menariknya menjadi beberapa bagian jawaban dari orang lain.”

“Mengapa, temanku yang baik,” aku berkata, “bagaimana mungkin seseorang menajawab seseorang yang mengetahui, dan mengatakan bahwa ia tidak ada mengetahui apa-apa; dan seseorang, bahkan jika ia memiliki sendiri beberapa pemahaman yang samar, diberitahukan oleh seorang yang berkuasa supaya tidak mengungkapkannya? Hal yang biasanya adalah, bahwa seorang pembicara harus seseorang yang seperti kamu yang memiliki pengetahuan dan mampu mengatakan apa yang ia ketahui. Akankah kamu berbaik hati menjawab, demi pembelajaran teman-teman dan diriku?”

Glaucon dan semua teman bergabung bersama permintaanku, dan Thrasymachus, sebagaimana dilihat oleh setiap orang, sangat ingin berbicara; karena menyangka memiliki jawaban yang bagus, dan ingin membuktikan dirinya. Tetapi pertama-tama ia sangat menuntut jawaban dariku; akhirnya ia memulai. “Saksikanlah,” ia berkata, “kebijaksanaan Socrates. Ia menolak mengajar sendiri, dan pergi kepada pengajaran orang-orang lain, yang ia tidak pernah memberikan bahkan ucapan terima kasih kepada mereka.”

“Bahwa aku belajar dari orang lain,” aku menjawabnya, “adalah cukup benar; tetapi bahwa aku sebagai tidak berterima kasih aku menyangkal. Aku tidak ada memiliki uang, sehingga aku membayar dengan pujian, segala yang aku miliki; dan bagaimana aku siap memuji siapapun yang menurutku berbicara baik, kamu akan segera mengetahuinya ketika kamu telah menjawab; karena aku mengharapkan kamu menjawab dengan baik.”

“Dengarkanlah, jika demikian,” ia berkata; “aku menyatakan bahwa keadilan adalah bukan apa-apa kecuali kepentingan mereka yang lebih kuat. Dan mengapa kamu tidak memujiku? Tetapi tentu saja kamu akan tidak melakukannya.”

“Biarkan aku pertama-tama memahamimu,” aku menjawab. “Keadilan, sebagaimana kamu katakan, adalah kepentingan mereka yang lebih kuat. Apa, Thrasymachus, arti dari ini? Kamu tidak bisa bermaksud mengatakan bahwa Polydamas, sang pegulat yang lebih kuat daripada kita, dan mengetahui memakan daging sapi baik untuknya, untuk tubuhnya, bahwa memakan daging-sapi juga sama baik untuk kita yang lebih lemah darinya, dan benar dan adil untuk kita?”

“Kamu seorang pelawak, Socrates. Kamu membawa pernyataanku ke dalam rasa yang paling menghancurkan.”

“Tidak sama sekali, tuan yang baik,” aku berkata; “aku berusaha memahami mereka, dan aku berharap kamu akan menjadi sedikit lebih jelas.”

“Baik,” ia berkata, “belum pernahkah kamu mendengar bahwa bentuk-bentuk pemerintahan ada berbeda, ada tirani, dan ada demokrasi, dan ada aristokrasi?”

“Ya, aku mengetahuinya.”

“Dan pemerintahan adalah kekuatan pengatur di setiap negara?”

“Tentu saja.”

“Dan perbedaan bentuk pemerintahan menciptakan hukum-hukum demokratis, aristokratis, tiraniah, dengan sebuah pandangan kepada beberapa kepentingan mereka; dan hukum-hukum ini, yang dibuat oleh mereka demi kepentingan mereka sendiri, adalah keadilan yang mereka tetapkan kepada rakyat mereka, dan sesiapa yang melanggar akan dihukum sebagai penentang hukum, dan karena tidak berlaku adil. Inilah maksudku ketika aku mengatakan bahwa terdapat bentuk keadilan yang sama di semua negara, yaitu kepentingan pemerintah; dan karena pemerintah seharusnya memiliki kekuatan, kesimpulan yang masuk akal satu-satunya adalah, bahwa di semua tempat terdapat sebuah hakikat keadilan, yaitu kepentingan mereka, orang-orang yang lebih kuat.”

“Sekarang aku memahamimu,” aku berkata; “dan jika kamu benar atau salah aku akan berusaha menemukannya. Tetapi biarkan aku menandai, bahwa di dalam mengartikan keadilan kamu sendiri menggunakan kata ‘kepentingan’ yang kamu melarang aku gunakan. Apakah benar, bagaimanapun, bahwa di dalam penjelasanmu kata-kata ‘mereka yang lebih kuat’ ditambahkan?”

“Sebuah penambahan kecil, kamu harus membiarkannya,” ia berkata.

“Besar atau kecil, jangan dihiraukan. Sekarang kita berdua menyetujui bahwa keadilan adalah kepentingan dari sesuatu, tetapi kamu melanjutkan mengucapkan ‘mereka yang lebih kuat’. Tentang penambahan ini aku tidak terlalu yakin, dan harus mempertimbangkan lebih jauh.”

“Lanjutkan.”

“Aku akan melakukannya. Pertama-tama katakanlah kepadaku, apakah kamu mengakui bahwa adil untuk rakyat mematuhi pemimpin mereka?”

“Aku mengakuinya.”

“Tetapi apakah para pemimpin Negara selalu benar, ataukah mereka kadang-kadang melakukan kesalahan?”

“Tentu saja,” ia menjawab, “mereka terkadang salah.”

“Kemudian di dalam membuat aturan-aturan mereka, mereka mungkin terkadang benar, dan terkadang salah?”

“Benar.”

“Ketika mereka membuat dengan benar, mereka menciptakan aturan-aturan yang mendukung kepentingan mereka, ketika mereka membuat dengan salah, maka berlawanan dengan kepentingan mereka. Kamu mengakui itu?”

“Ya.”

“Hukum-hukum yang mereka buat harus dipatuhi oleh rakyat mereka. Itulah yang kamu sebut sebagai keadilan?”

“Tanpa ragu.”

“Kemudian keadilan, berdasarkan pendapatmu, bukan hanya kepatuhan kepada kepentingan mereka yang lebih kuat tetapi juga kebalikannya?”

“Apa maksudmu?” Ia bertanya.

“Aku hanya mengulangi apa yang telah kamu katakan, aku percaya. Tetapi biarkan kita mempertimbangkan: bukankah kita telah mengakui bahwa para pemimpin mungkin saja bersalah tentang kepentingan mereka di dalam apa yang mereka perintahkan, dan juga bahwa mematuhi mereka adalah keadilan? Bukankah itu telah diakui?”

“Ya.”

“Kemudian kamu harus juga menerima keadilan tidak untuk kepentingan mereka yang lebih kuat, ketika para pemimpin tidak sengaja memerintahkan hal-hal dilakukan untuk melukai diri mereka sendiri. Karena jika, sebagaimana yang kamu katakan, keadilan adalah kepatuhan masyarakat kepada perintah-perintah mereka, dengan demikian, wahai kamu yang paling bijaksana dari antara manusia, adakah jalan untuk lepas dari kesimpulan bahwa melukai mereka yang lebih kuat adalah yang diperintahkan untuk dilaksanakan oleh yang lebih lemah?”

“Ya, demi Zeus, Socrates,” Polemarchus berkata, “tidak ada hal yang bisa lebih jelas.”

“Ya,” Cleitophon berkata, menyela, “jika kamu dibiarkan menjadi saksi untuknya.”

“Tetapi tidak diperlukan satupun saksi,” Polemarchus berkata, “karena Thrasymachus sendiri mengakui bahwa para pemimpin terkadang memerintahkan apa yang bukan untuk kepentingan mereka sendiri, dan untuk rakyat mematuhi mereka adalah keadilan.”

“Itu,” Polemarchus, “adalah karena Thrasymachus mengatakan bahwa untuk rakyat mematuhi perintah pemimpin mereka adalah adil.”

“Ya, Cleitophon, tetapi ia juga mengatakan bahwa keadilan adalah kepentingan mereka yang lebih kuat, dan, sementara mengakui kedua hal ini, ia lebih jauh mengakui bahwa mereka yang lebih kuat mungkin saja memerintahkan mereka yang lebih lemah, rakyat mereka, untuk melakukan sesuatu yang bukan demi kepentingan mereka. Sehingga mengikuti keadilan adalah juga melukai sebagaimana memenuhi kepentingan mereka yang lebih kuat.”

“Tetapi,” Cleitophon berkata, “ia memaksudkan kepentingan mereka yang lebih kuat adalah hal yang dianggap oleh mereka yang lebih kuat itu sebagai kepentingan mereka. Inilah yang harus dilakukan oleh mereka yang lebih lemah, dan inilah yang ia yakini sebagai keadilan.”

“Itu bukan perkataannya,” Polemarchus menjawab.

“Jangan dirisaukan,” aku menjawab, “jika kini ia berkata demikian, biarkan kita menerima pernyataannya. Katakan kepadaku, Thrasymachus, apakah yang kamu maksudkan sebagai keadilan adalah hal yang dianggap oleh mereka yang lebih kuat sebagai kepentingan mereka, tanpa mempertimbangkan anggapan mereka benar ataupun salah?”

“Sama sekali tidak,” ia berkata. “Apakah kamu mengira aku menyebut ia yang melakukan kesalahan sebagai yang lebih kuat ketika ia melakukan kesalahan itu?”

“Ya,” aku berkata, “aku mendapatkan kesan bahwa kamu melakukannya, ketika kamu menerima bahwa para pemimpin bukan tidak mungkin salah melainkan terkadang salah.”

“Kamu mengemukakan pendapat seperti seorang pelapor, Socrates. Apakah maksudmu, misalnya, orang yang menilai salah seorang pesakit adalah seorang dokter ketika ia melakukan kesalahan itu? atau bahwa siapapun yang salah di dalam aritmatika atau tata-bahasa adalah ahli aritmatika dan ahli tata-bahasa ketika melakukan kesalahan, demi menghormati kesalahan itu? Benar, kita mengatakan bahwa ahli aritmatika atau ahli tata-bahasa pernah melakukan kesalahan, tetapi ini hanyalah sebuah cara berbicara; karena kenyataannya, dokter atau ahli aritmatika atau ahli tata-bahasa ketika mereka menjadi wakil dari nama mereka, tidak pernah melakukan kesalahan. Mereka tidak melakukan kesalahan kecuali keahlian mereka meninggalkan mereka, dan kemudian mereka tidak lagi disebut sebagai ahli. Tidak ada seniman atau saga atau pemimpin yang melakukan kesalahan ketika mereka menyandang nama mereka, meskipun ia secara umum dikatakan bersalah, dan aku menggunakan cara bicara yang umum. Tetapi demi ketepatan yang sempurna, karena kamu seorang pecinta ketepatan, kita harus mengatakan bahwa pemimpin, sepanjang ia adalah pemimpin, tidak akan salah, dan karena ia tidak pernah salah, ia senantiasa memerintahkan apa yang menjadi kepentingan dirinya, dan rakyat harus melaksanakan perintahnya. Sehingga, sebagaimana pertama aku katakan dan kini aku ulangi, keadilan adalah kepentingan mereka yang lebih kuat.”

“Benar, Thrasymachus, dan apakah aku benar tampak kepadamu seperti seorang pelapor?”

“Tentu saja,” ia menjawab.

“Dan apakah kamu menyangka aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini dengan berencana melukaimu secara tidak adil?”

“Tidak,” ia menjawab, “bukan ‘menyangka,’ aku mengetahuinya; tetapi kamu akan ditemukan, sehingga kamu akan tidak pernah mampu mengalahkanku.”

“Aku tidak akan membuat percobaan demikian, temanku yang baik. Tetapi untuk menghindari kesalahpahaman terjadi di antara kita di masa depan, biarkan aku bertanya. Di dalam rasa apakah kamu menyebutkan pemerintah atau mereka yang lebih kuat yang memiliki kepentingan, sebagaimana kamu telah katakan, ia menjadi yang lebih kuat, sehingga adil jika mereka yang lebih lemah melaksanakannya? Apakah ia adalah pemimpin di dalam bentuk rasa yang umum ataukah di suatu bentuk yang terbatas?”

“Di dalam bentuk rasa yang paling terbatas dari semua rasa,” ia berkata. “Dan sekarang berbuat curang dan bermainlah sebagai pelapor jika kamu bisa, aku tidak menanyakan apapun darimu. Tetapi kamu akan mengetahui bahwa kamu tidak akan pernah mampu.”

“Dan apakah kamu membayangkan,” aku berkata, “aku seorang gila sehingga mencoba dan berbuat curang, Thrasymachus? Aku mungkin lebih baik mencukur seekor singa.”

“Mengapa,” ia berkata, “kamu baru saja melakukannya, dan kamu telah gagal.”

“Cukup,” aku berkata, “dengan sopan-santun ini. Lebih baik aku mengajukan sebuah pertanyaan. Apakah dokter, di dalam bentuk rasa yang paling terbatas seperti yang kamu katakan, adalah seorang penyembuh ataukah pencari uang? Dan ingatlah bahwa aku kini membicarakan dokter yang sejati.”

“Penyembuh orang sakit,” ia menjawab.

“Dan nahkoda, nahkoda sejati, apakah ia adalah pemimpin para pelaut ataukah pelaut saja?”

“Pemimpin para pelaut.”

“Kenyataan bahwa ia berlayar di dalam kapal akan tidak diperhitungkan, karena ia hanya akan menjadi pelaut. Nama nahkoda yang membedakannya tidak berhubungan dengan kegiatan pelayarannya, tetapi berdasarkan keahlian dan haknya untuk mengatur para pelaut?”

“Sangat benar,” ia berkata.

“Sekarang,” aku berkata, “setiap seni memiliki kepentingan?”

“Tentu saja.”

“Untuk hal itulah seni dianggap disediakan?”

“Ya, itu adalah tujuan seni.”

“Dan kepentingan setiap seni adalah kesempurnaan seni tersebut. Ini dan tidak ada yang lain?”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, seperti misalnya kamu menanyaiku jika badan cukup menjadi badan ataukah memerlukan sesuatu yang lain, aku seharusnya menjawab: Tentu saja badan memerlukan sesuatu yang lain; karena badan mungkin akan sakit dan membutuhkan penyembuhan, dan karena itu ia memerlukan pertolongan dari bidang perobatan; dan ini adalah asal dan keperluan perobatan, sebagai yang kamu akan menyetujui. Bukankah aku benar?”

“Benar,” ia menjawab.

“Tetapi apakah seni perobatan atau manapun seni yang lain bersalah atau kurang mampu di dalam mutu apapun, sebagaimana mata mungkin menjadi kurang mampu melihat atau telinga kepada pendengaran, sehingga kurang mampu melihat dan mendengar. Apakah seni sebagai dirinya sendiri,” aku berkata, “memiliki kecenderungan kepada kesalahan atau kekurangmampuan, dan apakah setiap seni memerlukan bantuan dari seni lain demi kepentingannya, dan yang lain itu dari yang lain tanpa akhir? Atau apakah seni-seni itu hanya memperhatikan kepentingan mereka sendiri? Ataukah mereka tidak memiliki keperluan di diri mereka sendiri ataupun yang lain? mereka tidak memiliki kesalahan ataupun kelemahan, sehingga mereka tidak ada keperluan untuk memperbenar, dengan menggunakan diri mereka ataupun yang selain mereka, mereka hanya perlu mempertimbangkan kepentingan hal yang mereka kerjakan. Karena setiap seni akan tetap murni dan tanpa-salah ketika tetap benar, yaitu, sempurna dan tak-mungkin-cacat. Menggunakan kata-katamu di dalam rasa pasti, dan beritahukan aku jika aku tidak benar.”

“Ya, jelas.”

“Kemudian perobatan,” kataku, “bukan memikirkan kepentingan obat, tetapi kepentingan badan?”

“Benar.”

“Tetapi tentu saja, Thrasymachus, seni-seni itu melebihi kemampuan dan merupakan pemimpin untuk hal yang mereka kerjakan?”

Kepada ini ia memberikan pengulangan jawaban dengan baik.

“Kemudian,” aku berkata, “tidak ada ilmu atau seni yang memedulikan atau mementingkan kepentingan mereka yang lebih kuat, tetapi hanya kepentingan mereka yang lebih lemah yang dipimpin oleh mereka.”

Ia mencoba menandingi perkataan ini, tetapi akhirnya ia menerimanya.

“Kemudian,” aku melanjutkan, “tidak ada dokter, selama ia adalah dokter, yang memedulikan kebaikan dirinya di dalam apa yang ia kerjakan, tetapi kebaikan pesakitnya; karena dokter sejati adalah pemimpin kepada badan manusia, dan bukan hanya pencari uang. Itu telah diterima?”

“Ya.”

“Dan demikian juga dengan nahkoda, di dalam bentuk rasa yang terbatas, ia adalah pemimpin para pelaut dan ia bukan hanya pelaut?”

“Itu telah diterima.”

“Dan seorang nahkoda dan pemimpin akan menyediakan dan mengerjakan kepentingan pelaut yang ada di bawahnya, dan bukan demi kepentingan dirinya sendiri?”

Ia memberikan pengulangan ‘Ya.’

“Kemudian,” aku berkata, “Thrasymachus, tidak ada seorangpun di dalam aturan manapun, selama ia adalah seorang pemimpin, yang memikirkan atau menikmati apa yang demi kepentingannya sendiri, tetapi selalu kepada kepentingan rakyatnya atau hal yang dikerjakan oleh seninya. Kepada itu saja ia menimbangkan segala sesuatau yang ia ucapkan dan lakukan.”

Ketika kami tiba di titik ini di dalam argumen, dan semua orang melihat bahwa pengertian keadilan telah tersusun, Thrasymachus tidak membuat jawaban kepadaku, ia berkata: “Beritahukan kepadaku, Socrates, pernahkah kamu memiliki seorang pengasuh?”

“Mengapa kamu mengajukan pertanyaan semacam itu,” aku berkata, “saat kamu seharusnya memberikan jawaban?”

“Karena ia membiarkanmu beringus, dan tidak pernah menyapu wajahmu, walaupun kamu sangat memerlukannya, jika ia tidak bisa mengajarimu untuk membedakan penggembala-domba dari domba.”

“Apa yang membuatmu mengatakan demikian?” Aku menjawab.

“Karena kamu menyangka bahwa penggembala domba atau penggembala sapi menggemukkan atau membimbing domba atau sapi demi kebaikan mereka dan bukan demi kepentingan drinya atau tuannya; dan kamu lebih jauh membayangkan bahwa para pemimpin Negara, jika mereka adalah pemimpin sejati, tidak pernah menganggap rakyat mereka sebagai domba, dan bahwa mereka bukan mempelajari siang dan malam sumber-sumber keberuntungan diri mereka sendiri. Oh, tidak, dan kamu sangat kacau dengan pemikiranmu tentang yang adil dan yang tidak adil karena bahkan tidak mengetahui bahwa keadilan dan mereka yang adil sebenarnya adalah kebaikan pihak lain, yaitu kepentingan para pemimpin dan mereka yang lebih kuat, dan kerugian rakyat dan para pelayan. Dan ketidakadilan adalah kebalikannya, karena mereka yang tidak adil adalah tuan kepada mereka yang adil: ia adalah yang lebih kuat, dan rakyatnya melakukan apa yang adalah kepentingannya, dan membantu kebahagiaannya, di dalam melayaninya, yang sangat jauh dari menjadi milik mereka sendiri. Pertimbangkan lebih jauh, Socrates yang paling dungu, bahwa mereka yang adil selalu menjadi pecundang dibandingkan dengan mereka yang tidak adil. Pertama dari semua hal, di dalam kesepakatan pribadi: kapanpun orang yang tidak adil menjadi mitra untuk mereka yang adil kamu akan mendapati bahwa ketika kemitraan itu telah disepakati, orang yang tidak adil selalu mendapatkan lebih banyak dan orang yang adil lebih sedikit. Ke dua, di dalam pembayaran mereka kepada negara: ketika ada pajak penghasilan, orang yang adil akan membayar lebih banyak dan orang yang tidak adil membayar lebih sedikit jika penghasilan mereka sama; dan ketika sesuatu akan diterima yang satu tidak mendapatkan apapun sementara yang lain mendapatkan banyak. Perhatikanlah juga apa yang terjadi ketika mereka menjadi pejabat; ada orang adil yang memikirkan bawahan dan mungkin menderita beberapa kerugian lain, dan tidak ada yang diketahui umum, karena ia adil; lebih dari itu ia juga dibenci oleh teman-temannya sendiri karena ia akan menolak melayani mereka di dalam cara yang melanggar aturan. Tetapi semua ini berkebalikan dengan yang dialami oleh mereka yang tidak adil. Aku membicarakan, seperti sebelum ini, ketidakadilan di sebuah perbandingan yang luas yang dengan paling jelas memperlihatkan keberuntungan mereka yang melakukan ketidakadilan. Maksudku akan lebih jelas terlihat jika kita memandang kepada bentuk tertinggi ketidakadilan ketika penjahat adalah yang paling berbahagia dari antara semua orang, dan mereka yang menderita atau mereka yang menolak melakukan ketidakadilan adalah yang paling sedih, ialah tirani, yang dengan pengancaman dan kekuatan mengambil semua harta milik orang lain, bukan sedikit demi sedikit tetapi keseluruhan; memperbandingkan di dalam satu, benda-benda suci ataupun benda-benda biasa, pribadi dan umum; yang dilakukan hal buruk terhadapnya, jika ia yang diketahui mengambil satupun barang ini seorang diri, ia akan dihukum dan akan menderita kehinaan yang besar--mereka yang melakukan kesalahan ini akan dinamai sebagai para perampok kuil, dan pencuri, dan penyusup, dan sebagainya. Tetapi ketika seseorang mengambil uang rakyat yang telah ia perbudak, kemudian, bukan nama-nama buruk ini yang akan mereka sandang, ia akan dianggap berbahagia dan terberkati, bukan hanya oleh rakyatnya tetapi oleh semua orang yang mendengar bahwa ia telah mendapatkan hadiah ketidakadilan. Karena manusia menghargai mereka yang tidak adil, takut bahwa mereka mungkin akan menjadi korbannya dan bukan karena tidak mau melakukannya. Demikianlah, Socrates, ketidakadilan, ketika di tingkatan yang memadai, memiliki lebih banyak kekuatan dan kebebasan dan kemampuan daripada keadilan. Dan, sebagaimana aku katakan saat pertama, keadilan adalah kepentingan mereka yang lebih kuat, sementara ketidakadilan seseorang adalah keuntungan dan kepentingan diri seseorang itu sendiri.”

Thrasymachus hendak pergi ketika ia selesai berkata demikian, setelah seperti seorang penjaga rumah permandian, menyiram telinga-telinga kami dengan kata-katanya. Tetapi teman-teman tidak membiarkannya. Mereka mengukuhkan bahwa ia harus tinggal dan mempertahankan tempatnya, dan aku menambahkan permohonanku supaya ia tidak meninggalkan kami. “Thrasymachus,” aku berkata kepadanya, “orang yang luar-biasa, kalimat-kalimatmu sangat menggugah! Dan apakah kamu akan pergi sebelum kamu mengetahui atau mempelajari bahwa mereka adalah benar ataukah salah? Apakah usaha untuk menentukan cara hidup manusia adalah sebuah hal yang sangat kecil di matamu, untuk menentukan bagaimana hidup mungkin dijalankan oleh setiap diri kita demi keberuntungan terbesar?”

“Dan apakah aku berbeda denganmu,” ia berkata, “kepada kepentingan pencarian ini?”

“Kamu tampak demikian,” aku menjawab, “untuk tidak peduli atau berpikir tentang kami, Thrasymachus, untuk kami hidup lebih baik atau lebih buruk karena tidak mengetahui apa yang kamu katakan kamu ketahui, adalah sebuah hal yang tidak bernilai untukmu. Berbaikhatilah, teman, jangan menyimpan pengetahuanmu untuk dirimu sendiri. Kita adalah sebuah kelompok besar, dan setiap keberuntungan yang kamu berikan kepada kami akan kami hargai dengan pantas. Untuk diriku aku menyatakan secara terbuka bahwa aku tidak yakin, dan bahwa aku tidak percaya ketidakadilan lebih baik daripada keadilan, bahkan jika tanpa kendali dan dibiarkan bermain bebas. Karena, mungkin saja ada seseorang yang tidak adil yang melakukan ketidakadilan dengan ancaman atau kekuatan, tetap saja ini tidak membuatku yakin kepada kelebihberuntungan ketidakadilan, dan mungkin ada orang-orang yang sama menduga sebagaimana diriku. Mungkin kami salah, jika demikian, kamu di dalam kebijaksanaanmu seharusnya membuat kami yakin bahwa kami salah mengutamakan keadilan daripada ketidakadilan.”

“Dan bagaimana aku membuatmu yakin,” ia berkata, “jika kamu tidak teryakinkan oleh apa yang baru saja aku katakan? apa lagi yang bisa aku lakukan untukmu? Haruskah aku menghunjamkannya ke dalam kepalamu?”

“Langit melarang!” Aku berkata, “aku hanya akan memintamu bertetapan. Atau, jika kamu berubah, berubahlah secara terbuka dan biarkan tidak ada pemaksaan penerimaan. Karena aku harus menandai, Thrasymachus, jika kamu mengucapkan ulang apa yang telah diucapkan, bahwa walaupun kamu memulai dengan mengartikan dokter sejati di dalam rasa pasti, kamu tidak memandang di dalam kepastian yang sama dengan itu ketika kamu berbicara tentang penggembala-domba; kamu menyangka bahwa penggembala-domba memelihara domba-domba tidak dengan memandang kebaikan mereka, tetapi hanya sebagai hidangan atau cadangan makanan demi kenikmatan di meja; atau, lebih, memandang penjualan mereka, seolah-olah sebagai pencari uang dan bukan sebagai penggembala-domba. Telah diyakini bahwa seni penggembala-domba hanya memedulikan kebaikan hal yang ia kerjakan, penggembala-domba hanya menyediakan yang terbaik untuk mereka, karena kesempurnaan seni adalah ketika semua persyaratan itu terpenuhi. Dan itu adalah apa yang aku katakan kini tentang pemimpin. Aku mendapati seni pemimpin, sebagai pemimpin, di dalam negara ataupun kehidupan pribadi, hanya bisa memedulikan kebaikan rakyat atau hal yang ia kerjakan. Mengapa kamu menyangka para pejabat dan para pemimpin di dalam kota kita, pemimpin sejati, secara suka rela memegang pengurusan dan memimpin?”

“Aku bukan menyangka, aku mengetahuinya.”

“Kemudian mengapa di dalam pengurusan, orang-orang tidak pernah mau melakukannya tanpa pembayaran, kecuali di bawah pemikiran bahwa mereka memerintah bukan demi dirinya tetapi orang-orang lain? Biarkan aku mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu: bukankah beberapa seni memiliki perbedaan, demi alasan masing-masing mereka memiliki tujuan yang berbeda? Dan, temanku yang termasyhur, jangan katakan hal yang bertentangan dengan kepercayaanmu.”

“Ya, itulah perbedaannya,” ia menjawab.

“Dan setiap seni memberikan kita kebaikan yang tertentu dan bukan sebuah kebaikan yang luas. Perobatan, misalnya, memberikan kita kesehatan, ilmu pelayaran, keselamatan di laut, dan seterusnya?”

“Ya,” ia berkata.

“Dan seni pembayaran memiliki penyerahan harga sebagai tujuan terbatasnya. Tetapi kita tidak menyangkakan ini dengan seni yang lain, satu lebih dari seni nahkoda yang disangkakan dengan perobatan, karena kesehatan nahkoda mungkin membaik oleh pelayaran laut; kamu tentu tidak akan berkata, akankah kamu, bahwa ilmu arah adalah seni perobatan, setidaknya jika kita mengambil penggunaan bahasa kepastianmu?”

“Tentu saja tidak.”

“Atau, karena seseorang merasa sehat ketika ia menerima pembayaran, kamu akan tidak mengatakan bahwa seni pembayaran adalah perobatan?”

“Aku akan tidak.”

“Tidak juga kamu akan mengatakan bahwa perobatan adalah seni menerima pembayaran karena seseorang meminta bayaran ketika ia diminta melakukan penyembuhan?”

“Tentu saja tidak.”

“Dan kita telah menerima,” aku berkata, “bahwa kebaikan setiap seni adalah khusus kepada seni itu saja?”

“Ya.”

“Kemudian, apakah ada sebuah kebaikan yang dimiliki oleh semua seniman secara umum, yang bisa disandangkan kepada sesuatu yang mereka semua gunakan dengan cara yang sama?”

“Benar,” ia menjawab.

“Dan ketika seniman diuntungkan oleh menerima pembayaran keuntungan ini diperoleh dengan bantuan penggunaan seni pembayaran, yang tidak dikerjakan oleh seni yang ia lakukan?”

Ia memberikan jawaban mengulang kepada ini.

“Kemudian keuntungan tersebut, pembayaran, tidak dilakukan seniman-seniman tersebut dari seni mereka. Tetapi kebenarannya, sementara seni perobatan memberikan kesehatan, dan seni pertukangbatuan membangun rumah, sebuah seni lain membantu mereka, yaitu seni pembayaran. Seni-seni yang bermacam-macam mungkin melakukan urusan mereka dan menguntungkan pihak lain yang mereka perhatikan, tetapi apakah seniman akan menerima keuntungan dari seninya kecuali ia juga dibayar?”

“Aku menganggap tidak.”

“Tetapi apakah ia tidak memberikan keuntungan ketika ia bekerja tanpa dibayar?”

“Tentu saja, ia memberikan keuntungan.”

“Kemudian sekarang, Thrasymachus, tidak terdapat keraguan lagi bahwa tidak seni ataupun pemerintahan disediakan demi kepentingan mereka sendiri; tetapi, sebagaimana telah kita katakan, mereka mengatur dan menyediakan untuk kepentingan rakyat yang lebih lemah dan bukan yang lebih kuat. Demi kebaikan mereka itulah dan bukan demi kebaikan mereka yang lebih mampu. Dan demi alasan ini, Thrasymachus yang baik, mengapa, sebagai yang kini aku katakan, tidak ada yang mau memerintah; karena tidak seorangpun yang suka menangani perlawanan kepada kejahatan yang bukan demi kepentingan mereka sendiri tanpa dibayar. Karena, di dalam melaksanakan pekerjaannya, dan di dalam memberikan perintah kepada orang-orang lain, seniman sejati tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tetapi selalu kepentingan hal yang ia kerjakan; dan karena itu demi pemimpin mau memerintah, mereka harus dibayar di dalam salah satu dari tiga macam pembayaran, uang, atau penghormatan, atau hukuman jika mereka menolak.”

“Apa maksudmu, Socrates?” Glaucon berkata. “Kedua macam pembayaran pertama cukup bisa dimengerti, tetapi hukuman itu aku tidak mengerti, atau bagaimana sebuah hukuman bisa menjadi sebuah pembayaran.”

“Kemudian kamu tidak memahami pembayaran orang-orang terbaik yang deminya jiwa-jiwa yang paling baik memerintah? Tentu kamu mengetahui bahwa keinginan yang menggebu-gebu dan hasrat yang keterlaluan adalah dianggap, sebagaimana mereka memang demikian, sebagai ketidakbaikan?”

“Sangat benar.”

“Dan untuk alasan ini,” aku berkata, “uang dan kehormatan tidak memiliki daya tarik untuk mereka. Orang-orang yang baik tidak mengharapkan untuk secara terbuka meminta pembayaran demi memerintah dan demikian juga demi mendapatkan gelar pekerja-sewa, tidak secara rahasia menolong diri mereka sendiri menggunakan penghasilan orang umum untuk memeroleh nama sebagai para pencuri. Mereka tidak memiliki keinginan yang menggebu-gebu, sehingga tidak memedulikan penghormatan. Sementara kebutuhan mesti diletakkan kepada mereka, dan mereka harus diturunkan kepada melayani demi takut kepada penghukuman. Ini, sebagaimana aku bayangkan, adalah alasan yang utama untuk menerima jabatan, tanpa pemaksaan, dianggap tidak terhormat. Hukuman yang terutama adalah bahwa ia yang menolak untuk memerintah mungkin saja diperintah oleh seseorang yang lebih buruk darinya. Kekhawatiran terhadap hal ini, sebagaimana aku dapati, mendorong orang baik untuk menerima jabatan, bukan karena mereka ingin, tetapi karena mereka tidak berdaya. Bukan di bawah pemikiran bahwa mereka akan memeroleh keuntungan atau kenikmatan untuk diri mereka sendiri, tetapi sebagai keharusan, dan karena mereka tidak mampu menerima tugas untuk mengatur siapapun yang lebih baik dari mereka atau yang ternyata sama baik. Karena ada alasan jika sebuah kota diisi oleh orang-orang baik semuanya, maka untuk menghindari jabatan adalah hal yang sama saja dengan untuk menerimanya; kemudian kita seharusnya telah memiliki bukti nyata bahwa pemimpin sejati tidak menghendaki menghargai kepentingan dirinya sendiri, tetapi rakyatnya, dan setiap orang yang mengetahui ini harus memilih antara menerima keuntungan atau bersusah-susah memberikan satu. Inilah kemudian, aku sangat jauh dari menyetujui Thrasymachus bahwa keadilan adalah kepentingan mereka yang lebih kuat. Pertanyaan terakhir ini tidak perlu lagi dibicarakan saat ini, tetapi ketika Thrasymachus mengatakan bahwa kehidupan orang yang tidak adil lebih beruntung dari orang yang adil, pernyataan barunya tampak kepadaku sebagai hal yang lebih bersungguh-sungguh. Siapa dari antara kami telah berbicara benar? Dan macam hidup apa, Glaucon, yang kamu utamakan?”

“Aku merasa bahwa hidup orang yang adil adalah yang lebih beruntung,” ia menjawab.

“Apakah kamu telah mendengar semua keberuntungan orang-orang yang tidak adil yang dikemukakan oleh Thrasymachus?”

“Ya, aku telah mendengarnya,” ia menjawab, “tetapi ia tidak membuatku yakin.”

“Kemudian haruskah kita menemukan beberapa jalan untuk membuatnya yakin, jika kita mampu, bahwa mengatakan ia hal yang tidak benar?”

“Tentu saja,” ia menjawab.

“Jika,” aku berkata, “ia menciptakan sebuah rangkaian pembicaraan dan kita membuat yang lain menghitung kembali segala kebaikan yang diterima dari menjadi adil, dan ia menjawab dan kita membalas, seharusnya ada pembilangan dan pengukuran kebaikan yang teranggap di sisi lain, dan akhirnya kita seharusnya memerlukan para juri untuk memutuskan; tetapi jika kita melanjutkan pencarian sebagaimana yang telah kita lakukan, secara membuat pengakuan satu sama lain, kita seharusnya menyatukan semua juri dan jaksa di dalam diri kita.”

“Sangat baik,” ia berkata.

“Dan cara bagaimana yang bisa aku mengerti untuk kamu terima?” Aku berkata.

“Yang kamu ajukan itu.”

“Baik, kemudian, Thrasymachus,” aku berkata, “anggap kamu memulai di awal dan jawablah kami. Kamu mengatakan bahwa ketidakadilan yang sempurna adalah lebih memberikan keberuntungan daripada keadilan yang sempurna?”

“Ya, itulah yang aku katakan, dan aku telah memberikanmu alasanku.”

“Dan apa pandanganmu tentang mereka? Akankah kamu mengatakan salah satu dari mereka baik dan yang lain buruk?”

“Tentu saja.”

“Aku menyangka kamu akan menyebut keadilan sebagai baik dan ketidakadilan sebagai buruk?”

“Seolah-olah kamu tidak bersalah ketika aku mengatakan bahwa ketidakadilan menguntungkan dan keadilan tidak.”

“Apa yang lain akan kamu katakan?”

“Sebaliknya,” ia menjawab.

“Apakah kamu akan menyebut keadilan sebagai keburukan?”

“Tidak, aku lebih akan mengatakan kesederhanaan yang terhormat atau kebaikan jantung.”

“Kemudian kamu akan menyebut ketidakadilan sebagai keburukan jantung?”

“Bukan, tetapi kebaikan penilaian.”

“Dan apakah mereka yang tidak adil tampak bijaksana dan baik kepadamu?”

“Ya,” ia berkata; “jika mereka mampu melakukan ketidakadilan yang sempurna, dan ia yang memiliki kekuatan untuk menundukkan negara-negara dan bangsa-bangsa. Mungkin kamu menyangka aku membicarakan para pencuri dompet, walaupun pekerjaan ini, jika tidak diketahui, akan memberikan keberuntungan, tetap saja tidak mungkin diperhitungkan, tetapi hanya mereka yang baru saja aku jelaskan.”

“Aku tidak merasa salah memahami pengertianmu, Thrasymachus,” aku menjawab; “tetapi tetap aku tidak mampu mendengar tanpa kagum bahwa kamu menempatkan ketidakadilan sebagai kebijaksanaan dan kebaikan, dan keadilan sebaliknya.”

“Tentu saja aku menempatkan mereka demikian.”

“Sekarang,” aku berkata, “kamu berada di bidang yang lebih memakna dan bidang yang hampir tidak-terjawabkan; karena jika ketidakadilan yang kamu dapati sebagai lebih menguntungkan dan telah diterima olehmu sebagaimana yang lain sebagai keburukan dan menghancurkan; sebuah jawaban mungkin diberikan kepadamu di penerimaan ajaran-ajaran; tetapi sekarang aku menyangka kamu akan menyebut ketidakadilan sebagai terhormat dan kuat, dan kepada mereka yang tidak adil kamu akan memberikan semua mutu yang telah selama ini kita berikan kepada mereka yang adil, melihat kamu dengan tidak ragu menempatkan ketidakadilan sebagai bijaksana dan baik.”

“Kamu menyangka dengan cara yang paling benar,” ia menjawab.

“Kemudian aku tentu saja akan tidak mundur dari melanjutkan argumen selama aku memiliki alasan bahwa kamu, Thrasymachus, membicarakan pikiranmu yang nyata. Karena aku tidak percaya bahwa kamu kini sedang sungguh ingin dan tidak sedang mengolok-olok dirimu kepada pembelanjaan kami.”

“Aku mungkin sungguh ingin ataupun tidak, tetapi apa itu untukmu? untuk melawan argumen adalah urusanmu.”

“Sangat benar,” aku berkata; “itu yang aku harus lakukan. Tetapi akankah kamu menjadi sangat baik demi menjawab satu lagi pertanyaan? Apakah orang adil mencoba melampaui orang adil yang lain?”

“Jauh sebaliknya. Jika ia melakukannya, ia akan tidak lagi menjadi makhluk sederhana yang konyol sebagai dirinya.”

“Dan apakah ia akan mencoba melampaui tindakan yang adil?”

“Ia tidak akan.”

“Dan bagaimana ia akan memperlakukan orang yang tidak adil? Apakah ia akan menganggap adil untuk melampauinya?”

“Ia akan berpikir itu adil, tetapi ia akan tidak mampu.”

“Pertanyaanku bukan soal mampu atau tidak mampu,” aku berkata, “tetapi apakah orang adil, sementara ia menolak untuk melampaui orang adil yang lain, akan berharap dan menyatakan memiliki melebihi orang yang tidak adil?”

“Ya, ia ingin.”

“Dan apa orang yang tidak adil, apakah ia menyatakan memiliki melebihi orang adil dan melakukan melebihi orang adil?”

“Tentu saja,” ia berkata, “sejak ia menyatakan memiliki melebihi semua manusia.”

“Dan orang yang tidak adil akan berusaha dan berjuang untuk mendapatkan melebihi orang yang tidak adil atau tindakannya, demi ia mungkin melebihi semua orang?”

“Benar.”

“Kita mungkin meletakkan persoalan tersebut demikian,” aku berkata, “orang adil tidak ingin mendapatkan melebihi apa yang ia sama tetapi lebih kepada apa yang ia tidak sama, sementara orang yang tidak adil mengingini kedua-duanya yang ia sama dan yang ia tidak sama?”

“Tidak ada yang bisa lebih baik dari pernyataan itu,” katanya.

“Dan orang yang tidak adil lebih baik dan bijaksana, dan orang yang adil kebalikannya?”

“Baik lagi,” ia berkata.

“Dan tidakkah orang yang tidak adil menyukai bijaksana dan baik dan orang yang adil tidak?”

“Tentu saja,” ia berkata, “ia yang dari sifat tertentu, menyukai mereka yang dari sifat tertentu; ia yang tidak, tidak.”

“Masing-masing mereka, aku berkata, serupa dengan yang ia sukai?”

“Tentu saja, ia menjawab.”

“Sangat baik, Thrasymachus, tetapi apakah kamu menyadari bahwa satu orang adalah pemusik dan yang lainnya tidak musikal?”

“Aku menyadarinya.”

“Yang mana yang bijaksana dan yang mana yang jahil?”

“Aku harus menganggap pemusik sebagai bijaksana dan yang tidak musikal sebagai jahil.”

“Dan bukankah ia baik di dalam hal-hal yang ia kuasai, dan buruk di dalam hal-hal yang ia tidak kuasai?”

“Ya.”

“Dan hal yang sama kepada dokter?”

“Sama.”

“Apakah kamu berpikir bahwa pemusik manapun akan berpikir untuk menandingi pemusik lain di dalam mengencangkan dan mengendurkan senar-senar atau akan menyatakan dan berpikir melampauinya?”

“Tidak.”

“Tetapi kepada yang tidak musikal?”

“Tentu saja,” ia berkata.

“Dan bagaimana dengan dokter? Di dalam menentukan makanan dan minuman, inginkah ia melampaui dokter dan cara kedokteran?”

“Tentu saja tidak.”

“Tetapi kepada yang bukan dokter?”

“Ya.”

“Tentang semua bentuk pengetahuan dan kejahilan. Apakah menurutmu seseorang yang memiliki pengetahuan akan pernah mengharapkan memeroleh pilihan mengatakan atau melakukan lebih dari orang lain yang memiliki pengetahuan? Bukankah ia akan mengatakan atau melakukan sama sebagai yang ia serupa di dalam kejadian yang sama?”

“Itu, menurutku, sulit untuk disangkal.”

“Dan apa dengan orang yang jahil? Tidakkah ia akan mengharapkan memiliki melebihi orang yang mengetahui ataupun orang yang jahil?”

“Aku berani berkata.”

“Dan yang mengetahui adalah bijaksana?”

“Ya.”

“Dan yang bijaksana adalah baik?”

“Benar.”

“Kemudian orang yang bijaksana dan orang yang baik akan tidak mengharapkan memeroleh melebihi apa yang ia sama, tetapi melebihi apa yang ia tidak sama dan sebaliknya?”

“Aku menyangka demikian.”

“Sementara orang yang buruk dan jahil akan mengharapkan memeroleh melebihi dari kedua-duanya?”

“Ya.”

“Tetapi bukankah kita telah mengatakan, Thrasymachus, bahwa yang tidak adil mengingini melebihi kedua-duanya yang ia sama dan tidak sama? Bukankah ini adalah kata-katamu?”

“Mereka kata-kataku.”

“Dan kamu juga telah berkata bahwa orang adil tidak akan mengingini melampaui apa yang ia sama tetapi apa yang ia tidak sama?”

“Ya.”

“Kemudian orang adil menyukai kebijaksanaan dan kebaikan, dan orang yang tidak adil menyukai keburukan dan kejahilan?”

“Itulah kesimpulannya.”

“Dan masing-masing mereka menyerupai apa yang ia sukai?”

“Itu telah diterima.”

“Kemudian orang adil telah terubah di tangan kita sebagai bijaksana dan baik dan orang yang tidak adil sebagai jahat dan jahil.”

Thrasymachus membuat semua penerimaan ini, bukan sebagaimana aku sekarang ceritakan secara ringan, tetapi dengan sangat enggan dan keringat mengalir deras di tubuhnya. Itu adalah suatu hari yang menyengat di musim panas, dan keringat mengalir deras di tubuhnya, kemudian aku menyaksikan apa yang belum pernah aku lihat, Thrasymachus memerah. Ketika kami kini menyetujui bahwa keadilan adalah baik dan bijaksana, dan ketidakadilan adalah buruk dan jahil, aku melanjutkan ke titik lain.

“Baik,” aku berkata, “Thrasymachus, hal itu telah terpasang. Tetapi bukankah kita juga telah mengatakan bahwa ketidakadilan memiliki kekuatan? apakah kamu ingat?”

“Ya, aku ingat,” ia berkata, “tetapi aku tidak setuju dengan yang sekarang kamu katakan dan aku memiliki jawabannya, jika aku menyatakannya aku cukup mengetahui bahwa kamu akan mengatakan bahwa aku memberikan pembicaraan yang terlalu panjang, karena itu izinkan aku untuk berkata-kata sepanjang yang aku suka, atau jika kamu ingin bertanya, lakukanlah, dan aku akan menjawab ‘Sangat baik,’ sebagaimana mereka katakan kepada para perempuan tua pendongeng, dan akan mengangguk ‘ya’ dan ‘tidak.’”

“Jangan lakukan,” aku berkata, “jika berlawanan dengan pendapatmu yang asli.”

“Ya,” ia berkata, “untuk membuatmu puas, karena kamu tidak ingin membiarkan aku berbicara. Apa yang lain yang kamu miliki?”

“Tidak ada di dunia,” aku berkata; “dan jika kamu sangat menolak, aku akan bertanya dan kamu harus menjawab.”

“Lanjutkan.”

“Kemudian aku akan mengulangi pertanyaan yang telah aku ajukan, supaya kita bisa melanjutkan secara baik. Apa alamiah dari ketidakadilan dibandingkan dengan keadilan? Sebuah pernyataan telah dibuat bahwa ketidakadilan lebih kuat dan lebih bijaksana daripada keadilan, tetapi kini keadilan, telah disamakan dengan kebijaksanaan dan kebaikan, mudah ditunjuk sebagai lebih kuat daripada ketidakadilan, jika ketidakadilan adalah kejahilan; ini tidak bisa lebih jauh dipertanyakan oleh siapapun. Tetapi aku ingin memandang hal ini, Thrasymachus, di dalam cara yang berbeda. Kamu akan menyangkal bahwa sebuah negara mungkin tidak adil dan secara tidak adil berusaha membudakkan bangsa lain, atau mungkin telah membudakkan mereka, dan mungkin menguasai banyak dari mereka di dalam penyerahan diri?”

“Benar,” ia menjawab; “dan inilah yang Negara yang terbaik akan terutama melakukannya. Negara yang tidak adil secara sempurna.”

“Aku mengetahui,” aku berkata, “seperti itu letak dirimu. Tetapi hal yang aku lebih ingin pertimbangkan adalah, jika kekuasaan ini dimiliki oleh bangsa yang lebih kuat bisa ada atau dilaksanakan tanpa keadilan atau hanya dengan keadilan.”

“Jika kamu benar di dalam pandanganmu, dan keadilan adalah kebijaksanaan, kemudian hanya dengan keadilan, tetapi jika aku benar, kemudian tanpa keadilan.”

“Mengagumkan, Thrasymachus, untuk melihatmu bukan hanya mengangguk setuju dan tidak setuju, tetapi membuat jawaban yang juga cukup cerdik.”

“Aku berusaha membuatmu senang,” ia menjawab.

“Kamu sangat baik,” aku berkata; “dan akankah kamu memiliki kebaikan juga untuk mengatakan kepadaku, apakah menurutmu sebuah bangsa, atau sepasukan tentara, atau sekumpulan perampok dan pencuri, atau perkumpulan pelaku-kejahatan manapun mampu bergerak jika mereka melukai satu sama lain?”

“Tentu saja tidak,” ia berkata, “mereka akan tidak mampu.”

“Tetapi jika mereka menghindar dari melukai satu sama lain, kemudian mereka mungkin bergerak lebih baik?”

“Ya.”

“Dan ini karena ketidakadilan menciptakan perpecahan dan kebencian dan permusuhan, dan keadilan menyebabkan keselarasan dan pertemanan. Bukankah itu benar, Thrasymachus?”

“Aku setuju,” ia berkata, “karena aku tidak berharap untuk bertengkar denganmu.”

“Kamu sangat baik,” aku berkata; “tetapi aku juga akan suka untuk mengetahui apakah ketidakadilan, memiliki kecenderungan membangkitkan kebencian, di manapun berada, di antara para budak ataupun di antara orang-orang merdeka, tidak akan membuat mereka membenci satu sama lain dan mencerai-beraikan mereka dan menyebabkan mereka tidak mampu kepada pekerjaan yang umum?”

“Tentu saja.”

“Dan bahkan jika yang tidak adil ini ditemukan dua saja, Bukankah mereka akan bertengkar dan berseteru, dan bermusuhan satu kepada yang lain dan kepada yang adil?”

“Mereka akan demikian.”

“Dan anggap ketidakadilan tinggal di dalam satu orang, apakah kebijaksanaanmu akan mengatakan ia kehilangan atau ia mendapatkan kekuatan alamiahnya?”

“Anggap saja ia memeroleh kekuatannya.”

“Bukankah kekuatan yang dilakukan ketidakadilan secara alami adalah bahwa di manapun ia tinggal, di sebuah kota, di dalam sepasukan tentara, di dalam sebuah keluarga, ataupun di dalam badan, adalah untuk memulai dengan, dipercaya tidak mampu menyatukan tindakan demi alasan pelemahan dan perpecahan; dan bukankah itu menjadi musuhnya sendiri dan kepada keragaman dengan semua yang melawannya, dan dengan yang adil? Bukankah ini demikian?”

“Ya, tentu saja.”

“Dan bukankah ketidakadilan sama berbahaya ketika hadir di dalam diri seseorang; pertama menjadikannya tidak mampu berbuat karena ia tidak menyatu dengan dirinya sendiri, dan ke dua menjadikan ia sebagai musuh dirinya sendiri dan yang adil? Bukankah itu benar, Thrasymachus?”

“Ya.”

“Dan wahai temanku, para dewa juga adil?”

“Berikanlah mereka demikian.”

“Tetapi jika demikian, yang tidak adil akan menjadi musuh kepada para dewa, dan yang adil akan menjadi teman mereka?”

“Bersuka-rialah di dalam kemenangan, dan ambil pemenuhanmu kepada argumen. Aku akan tidak melawanmu, supaya tidak menyerang para pendukungmu di sini.”

“Baik kemudian, lanjutkanlah dengan jawaban-jawabanmu, dan biarkan aku menghabiskan bagianku yang tersisa. Untuk kita telah menunjukkan bahwa yang adil jelas lebih bijaksana dan lebih mampu daripada yang tidak adil, dan jika kita pernah mengatakan siapapun yang tidak adil pernah melakukan tindakan secara baik, pernyataan tersebut tidak benar; lebih tidak, untuk mengatakan sebagaimana telah kita lakukan kepada orang-orang demi melakukan keburukan kapanpun secara jahat bersama-sama, tidak benar secara terbatas, karena jika mereka sempurna jahat, mereka akan memukul satu sama lain; tetapi terbukti mereka harus memiliki beberapa keadilan di diri mereka, yang membuat mereka mampu menyatukan; jika tidak ada maka mereka akan saling melukai sebagaimana kepada korban-korban mereka; mereka adalah setengah-buruk di dalam perbuatan mereka; karena jika mereka keseluruhan buruk, dan sangat tidak adil, mereka akan benar-benar tidak mampu bertindak. Itu, aku percaya adalah hakikat hal ini, dan bukan yang kamu katakan saat pertama. Tetapi apakah yang adil hidup lebih baik dan lebih berbahagia daripada yang tidak adil adalah pertanyaan lebih jauh yang kita juga ajukan untuk dipertimbangkan. Menurutku mereka demikian, dan demi alasan-alasan yang telah aku berikan; tetapi tetap aku ingin menjelaskan lebih lanjut, karena bukan hal ringan yang dipertaruhkan, tidak ada yang lebih ringan dari aturan hidup manusia.”

“Lanjutkan.”

“Aku akan melanjutkan secara mengajukan pertanyaan. Apakah kamu akan mengatakan bahwa seekor kuda memiliki pekerjaan tertentu atau akhir?”

“Aku harus.”

“Dan akhir atau pekerjaan seekor kuda, atau apapun, akan menjadi hal yang tidak bisa diselesaikan, atau tidak terlalu diselesaikan, oleh hal lain manapun?”

“Aku tidak mengerti,” ia berkata.

“Biarkan aku menjelaskan. Bisakah kamu melihat kecuali dengan mata?”

“Tentu saja tidak.”

“Atau mendengar, kecuali dengan telinga?”

“Tidak.”

“Hal-hal ini mungkin secara benar dikatakan sebagai akhir dari alat-alat ini?”

“Mereka mungkin.”

“Sekali lagi. Bisakah kamu memotong cabang buah anggur dengan pisau ataupun pahat, dan di dalam banyak cara lain?”

“Tentu saja.”

“Dan tetap tidak sebaik sabit yang dibuat demi tujuan tersebut?”

“Benar.”

“Bukankah kita harus kemudian menganggap ini sebagai pekerjaan atau akhir dari sabit?”

“Kita harus.”

“Kemudian sekarang aku berpikir kamu akan tidak memiliki kesulitan di dalam memahami ketika aku mengajukan pertanyaan apakah akhir dari setiap hal akan menjadi apa yang tidak bisa diselesaikan, atau tidak dengan baik diselesaikan, oleh hal lain?”

“Aku mengerti, dan setuju bahwa itu adalah pekerjaan dari apapun.”

“Dan hal yang sebuah akhir ditujukan kepadanya juga memiliki sebuah kebaikan? Perlukah aku menanyakan lagi apakah mata memiliki sebuah akhir?”

“Ia memiliki.”

“Dan apakah mata memiliki sebuah kebaikan?”

“Ya.”

“Dan telinga memiliki sebuah akhir dan sebuah kebaikan juga?”

“Benar.”

“Dan hal ini sama benar kepada semua hal lain, mereka masing-masing memiliki sebuah akhir dan sebuah kebaikan khusus?”

“Begitulah.”

“Baik, dan bisakah mata-mata memenuhi akhir mereka jika mereka memiliki kebaikan mereka dan memiliki kekurangan juga?”

“Bagaimana mereka bisa,” ia berkata, “jika mereka buta dan tidak bisa melihat?”

“Kamu bermaksud mengatakan, jika mereka kehilangan kebaikan mereka, yaitu penglihatan; tetapi aku belum sampai di titik itu. Aku lebih akan mengajukan pertanyaan secara umum, dan hanya menanyakan jika hal-hal yang memenuhi akhir mereka memenuhi mereka dengan kebaikan mereka sendiri, dan gagal memenuhi mereka dengan keburukan mereka sendiri?”

“Tentu saja,” ia menjawab.

“Aku mungkin berkata sama tentang telinga-telinga. Ketika dihindarkan dari kebaikan mereka sendiri mereka tidak bisa memenuhi akhir mereka?”

“Benar.”

“Dan apakah kita menerapkan aturan yang sama kepada semua hal lain?”

“Aku setuju.”

“Baik, dan bukankah jiwa memiliki sebuah akhir yang tidak bisa dipenuhi oleh apapun yang lain? Misalnya untuk menjaga dan memerintah dan memikirkan dan sebagainya. Bukankah pekerjaan-pekerjaan ini untuk jiwa, dan bisakah mereka diserahkan kepada hal lain?”

“Kepada tidak ada yang lain.”

“Dan bukankah hidup dianggap sebagai akhir dari jiwa?”

“Secara yakin,” ia berkata.

“Dan bukankah jiwa juga memiliki kebaikan?”

“Ya.”

“Dan bisakah atau tidak bisakah ia memenuhi akhir dirinya ketika dihindarkan dari kebaikan itu?”

“Ia tidak bisa.”

“Kemudian jiwa yang buruk seharusnya menjadi pemimpin dan pengawas yang buruk, dan jiwa yang baik pemimpin yang baik?”

“Ya, secara  perlu.”

“Dan kita telah menerima bahwa keadilan adalah kebaikan jiwa, dan ketidakadilan adalah ketidakbaikan jiwa?”

“Itu telah diterima.”

“Kemudian jiwa yang adil dan orang yang adil akan hidup baik, dan orang yang tidak adil akan hidup buruk?”

“Itulah yang terbukti oleh caramu ber-argumen.”

“Dan ia yang hidup baik adalah terberkati dan berbahagia, dan ia yang hidup buruk kebalikan dari berbahagia?”

“Tentu saja.”

“Kemudian yang adil berbahagia, dan yang tidak adil menderita?”

“Terjadilah demikian.”

“Tetapi kebahagiaan dan bukan penderitaan yang menguntungkan.”

“Tentu saja.”

“Kemudian, Thrasymachus yang terberkati, ketidakadilan tidak pernah bisa lebih menguntungkan daripada keadilan.”

“Biarkanlah ini, Socrates,” ia berkata, “menjadi penghiburanmu di Bendidea.”

“Untuk itu aku berhutang kepadamu,” aku berkata, “sekarang kamu telah menjadi lebih baik kepadaku dan telah meninggalkan pembentakan. Meskipun demikian, aku belum terhibur baik, tetapi kesalahanku sendiri, dan bukan kamu. Sebagaimana seorang pecinta-makanan yang merasai semua makanan yang dibawa ke meja, ia tidak membiarkan dirinya menikmati satupun makanan yang ada di hadapannya, demikian juga aku pergi dari satu hal kepada hal lain tanpa menemukan apa yang pertama aku cari, alamiah keadilan. Aku meninggalkan pencarian dan berbalik mempertimbangkan jika keadilan adalah kebaikan dan kebijaksanaan atau kejahatan dan kejahilan; dan ketika bangun sebuah pertanyaan yang lebih jauh tentang perbandingan keuntungan keadilan dan ketidakadilan, aku tidak mampu menghindarkan diriku. Sehingga untukku hasil dari keseluruhan pencarian kini adalah bahwa aku tidak mengetahui apapun. Karena aku tidak mengetahui apakah keadilan, dan karena itu aku seperti tidak tahu jika ia adalah atau bukanlah kebaikan, tidak juga aku bisa mengatakan orang yang adil berbahagia atau tidak berbahagia.”

Akhir Republik Buku 1.

No comments:

Post a Comment